Sedikit Tulisan Mengenai Disabilitas (Penyandang Cacat)

Standar

Assalamu’alaiku wr wb teman-teman, ini dia informasi yang mungkin dapat membantu dan menambah pengetahuan kita tentang dunia disabilitas. awalnya saya juga tidak tahu sama sekali tentang disabilitas ini. tapi, Allah swt yang mempertemukan saya dengan anak-anak disabilitas di SLB-C Muzdalifah.  saya yakin lebih dari 200 juta warga negara Indonesia, hanya 10% yang baru mentadari bahwa penyandang disabilitas (penyandang cacat) “Grahita” atau yang lebih dikenal idiot, cacat mental, autis, dll. di sini, saya akan coba berikan sedikit informasi yang dapat meluruskan dan mengklasifikasikan jenis dari golongan disabilitas ini.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia NO. 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat dijelaskan bahwa : 

(1) Penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari:

  1. penyandang cacat fisik;
  2. penyandang cacat mental;
  3. penyandang cacat fisik dan mental.

(2) Derajat kecacatan adalah tingkat berat ringannya keadaan cacat yang disandang seseorang.

(3) Kesamaan kesempatan adalah keadaan yang memberikan peluang kepada penyandang cacat untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

dari artikel yang diatas, dapat disimpulkan bahwasannya penyandang disabilitas tidak bisa dilihat hanya dari kemampuan inteligensinya saja melainkan juga harus lebih diperhatikan dari tingkat kondisi anak penyandang disabilitas tersebut.

Setelah saya berkecimpung selama satu tahun dalam dunia pendidikan luar biasa Muzdalifah ini atau yang lebih tepatnya SLB-C Muzdalifah, saya akan berbagi jenis sekolah yang sesuai dengan jenis penyandang disabilitas.

  1. SLB-A, dikelompokkan untuk Tunanetra, yaitu penyandang disabilitas yang memiliki gangguan pada penglihatan.
  2. SLB-B, dikelompokkan untuk Tunarungu, yaitu penyandang disabilitas yang memiliki gangguan pada pendengaran atau bicara (bisu).
  3. SLB-C, dikelompokkan untuk Tunagrahita, yaitu penyandang disabilitas yang memiliki gangguan pada mental, inteligensi, tingkah laku dan kecerdasan emosional (autis, down syndrome dan sejenisnya).
  4. SLB-D, dikelompokkan untuk Tunadaksa, yaitu penyandang disabilitas yang memiliki gangguan pada anggota tubuhnya mengalami kelainan. (berbentuk atau berfungsi tidak sesuai dengan semestinya).

Pada halaman yang saya buat unutuk khusus untuk sekolah SLB-C (penyandang disabilitas grahita). Salah satu definisi mengenai tunagrahita yang menggambarkan keadaan anak sesungguhnya dikemukakan oleh American Association on Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip Hallahan dan Kauffman (1991:46) adalah: “Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual yang secara jelas berada di bawah rata-rata/normal disertai dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan terjadi dalam periode perkembangan.” (Alih bahasa, Somantri, 2006:104).

Klasifikasi Pada Tunagrahita :

  1. Tunagrahita Ringan,Golongan Tunagrahita yang ringan yaitu mereka yang masih bisa dididik pada masa dewasanya kelak, usia mental yang bisa mereka capai setara dengan anak usia 8 tahun hingga usia 10 tahun 9 bulan. Dengan rentang IQ antara 55 hingga 69. Pada usia 1 hingga 5 tahun, mereka sulit dibedakan dari anak-anak normal, sampai ketika mereka menjadi besar. Biasanya mampu mengembangkan keterampilan komunikasi dan mampu mengembangkan keterampilan sosial. Kadang-kadang pada usia dibawah 5 tahun mereka menunjukkan sedikit kesulitan sensorimotor. Pada usia 6 hingga 21 tahun, mereka masih bisa mempelajari keterampilan-keterampilan akademik hingga kelas 6 SD pada akhir usia remaja, pada umumnya sulit mengikuti pendidikan lanjutan, memerlukan pendidikan khusus.
  2. Tunagrahita Sedang
    Tunagrahita golongan moderate ini, masih bisa dilatih (mampu latih). Kecerdasannya terletak sekitar 40 hingga 51, pada usia dewasa usia mentalnya setara anak usia 5 tahun 7 bulan hingga 8 tahun 2 bulan. Biasanya antara usia 1 hingga usia 5 tahun mereka bisa berbicara atau bisa belajar berkomunikasi, memiliki kesadaran sosial yang buruk, perkembangan motor yang tidak terlalu baik, bisa diajari untuk merawat diri sendiri, dan bisa mengelola dirinya dengan supervisi dari orang dewasa. Pada akhir usia remaja dia bisa menyelesaikan pendidikan hingga setara kelas 4 SD bila diajarkan secara khusus.
  3. Tunagrahita Berat
    Tungrahita yang tergolong parah, atau yang sering disebut sebagai Tunagrahita yang mampu latih tapi tergantung pada orang lain. Rentang IQ-nya terletak antara 25 hingga 39 . Pada masa dewasanya dia memiliki usia mental setara anak usia 3 tahun 2 bulan hingga 5 tahun 6 bulan. Biasanya perkembangan motoriknya buruk, bicaranya amat minim, biasanya sulit dilatih agar bisa merawat diri sendiri (harus dibantu), seringkali tidak memiliki keterampilan berkomunikasi.

Semoga bermanfaat…. ^_^

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s